akan aku ceritakan sedikit, tentang aku dan perasaan lega di dada, tentang kemunafikan yang sempat melekat di muka, atau tentang kepura-puraan yang selama ini mereka-reka.
Aku aku aku, aku dan hal yang tidak pernah aku suka.
Hutan, gunung, tanjakan, mendaki dan kesunyian. Aku kira mereka selama ini terlalu mengerikan. Memikirkannya saja membuat aku kedinginan.
Setiap kali ada yang mengajakku bergelut dengan semua itu, ku tolak semampuku, iya sebisaku, karena tak akan ada yang mengerti, gadis sepertiku gampang terjatuh, bahkan di lubang yang sama, berkali-kali.
"Gadis lemah" semua bisa meneriakiku dengan kata itu, sekencang yang mereka mau, tapi itu kemarin, sebelum aku mencintai semua hal yang menakutkan itu, sebelum ku kenali satu persatu, sebelum aku mencoba berada diantaranya.
Seharusnya dari dulu aku begini, pikiran burukku seakan terkena tamparan telak, karena yang tertanam di benakku jauh dari kenyataan.
Aku harap setelah ini, semua ketakutan bisa aku atasi, semua keinginan bisa aku wujudkan, semua keluhan bisa aku tepiskan, semua tulisan bisa aku aplikasikan, dan semua hal baru bisa aku bagikan.
Asaku tak pernah berhenti mengharap, aku butuh sekedar "say hello" dari kamu, karena rindu ini sungguh sangat membuat tak enak badan. Kamu sedang apa? bersama siapa? apa ingat aku? Pertanyaan itu terus berputar-putar diatas kepala, dan sebenarnya aku sendiri sudah tahu jawabannya.
Aku seperti berjalan di tempat, kisah-kisah lalu seperti terus terungkap, seharusnya moment indah bersamamu hanya aku jadikan kenangan, tapi justru aku ingin hidup disana.
Semisa R I N D U itu punya lima bagian yang menyiksa, maukah kamu membawa pergi satu? setidaknya itu akan sedikit meringankan pundakku.
Menurut kamu aku harus bagaimana? Jika harus menahan rasanya air rindu ini sudah terlalu penuh, Jika diungkapkan aku terlalu takut.
Apa kamu pernah begini? pernah seperti aku yang merindu terlalu dalam, sampai-sampai rasanya semua orang sedang menertawakanku. Menangispun sepertinya tak akan mengubah apapun.
Seandainya hatimu dan hatiku punya radar yang sama, mungkin signalku akan sesigap mungkin mencari signalmu, karena aku yakin signalku tak akan mungkin membiarkan aku serindu ini.
Sudah ku katakan, dimana-mana kamu seperti ada, padahal tidak sama sekali, ilusiku semakin memperburuk keadaan, menyiksaku.
Kepalaku menawarkan beberapa solusi kepada hatiku, salah satunya menganggap kalau aku sedang tidak merasakan apa-apa, tapi aku gagal total, sebelum kumencoba kamu sudah lebih dulu melintas didepanku, hahhh maksudku bayanganmu.
Jadi lagi-lagi aku kalah, aku kalah melawan R I N D U yang punya banyak cara menyiksaku.
"Lemah" tadi pagi kau datang dan menghujaniku dengan kata itu, bukan hanya sekali, kau mengucapkannya berkali-kali didepan mataku. Lalu kekesalan kau tampakkan dimukamu,
pada saat itu aku berpikir jemarimu mungkin ingin meremas tubuh kecilku atau memotongnya menjadi seribu bagian, lalu setelah itu kau melemparkan makhluk laknat ini ketempat terjauh agar tak merusak pandanganmu.
okeee tapi semua ini hanya opini belaka, opini dari gadis yang menggores kekecewaan dihatimu, opini dari aku yang membuat amarahmu memuncak tadi pagi, andaipun diberi kesempatan untuk melakukan itu, aku yakin kau pasti tak akan tega memutilasi tubuhku yang pendek ini. Sebagai rekan kerja aku yakin masih ada sedikit kasih untukku dihatimu, atau sebut saja tenggang rasa sesama rekan kerja.
huhhhhh, ku akui akhir-akhir ini kerjaku memang kurang maksimal, sebenarnya bukan hanya kurang tetapi sangat jauh dari kurang. Aku bukan ingin membela diri, akhir-akhir ini memang otakku tak dapat aku gunakan dengan optimal, rasa cuek itu memenuhi semua relung tubuhku, ditambah lagi problema hatiku yang sangat-sangat terbilang kacau. Ini bukan alasan, tapi disitulah kekuranganku, aku belum bisa memilah-milah masalah pribadi dengan tanggung jawab yang aku emban sebelumnya.
Kau tahu sendirikan, jiwa melanku belum bisa aku atasi sepenuhnya, kemanjaan hatiku masih sangat terbilang jelas dan mencolok.
hhuuhhhh tenang saja aku hanya sedang bergumul pada diriku sendiri, aku tidak meminta belas kasihanmu atau sedang lari dari masalah yang aku ciptakan sendiri.
Disini aku hanya sedang membetulkan perkataanmu, aku jiwa lemah yang merusak semua program kerja kita, jiwa lemah yang lupa dengan tanggung jawab besar yang sedang menanti, jiwa lemah yang patah hati dengan teramat gila, jiwa lemah yang saat ini tidak cocok bergelut di dunia percintaan, karena itu hanya akan menghancurkan semua pondasi yang dia punya.
mungkin permintaan maafku tak akan menyelesaikan semua dan tak akan mengubah situasi menjadi lebih baik.Tapi tolong beri aku kesempatan sekali lagi, kesempatan untuk mencoba memperbaiki setiap sudut jejak-jejak masalah itu. Menghapus kata lemah yang sudah kau lekatkan erat di jidatku.
sejak berjuta-juta detik yang lalu, semua rasa pernah berhenti di tempat ini. lalu mereka semua bekerja sesuai nama yang diberikan.
Ada yang membahagiakan lalu pergi seketika, berjalan menjauh seakan tak tergenggam, ketika tanganku kujulurkan dia bahkan tak teraih, kukejer kemanapun, tapi betapa kecewanya aku karena yang kudapati hanya sisa-sisa kenangan yang menumpuk menjadi "Rindu".
Apa aku harus berhenti mendapatkan bahagia itu? berbalik mungkin lebih baik.
Yang memberi duka, kubiarkan dia pergi menemukan jalan pulangnya sendiri, karena aku tak perlu mengantar atau sekedar mengucapkan salam.
Pena mana yang rela menumpahkan tintanya? kertas putih mana yang rela di timpa?
Aku sedang ingin menggores rindu, lima huruf ini sudah terlalu lama tinggal diam di dalam hatiku.
Ini Rindu yang menggebu, diasah tajam seperti pisau kalbu, untuk kamu. Apakah kamu merasakannya? Rindu yang aku ciptakan hanya beralaskan dua warna, hitam dan putihnya perasaan. Kelam? Begitukah suasananya? hahhhhh aku tidak peduli, karena dimataku warna lain terlalu cerah jika diisi didalam warna rinduku.
Dengarlah wahai kamu, Rindu ini sungguh sangat menyiksa kalbu, seakan-akan aku selalu dihantui bayang-bayangmu.
Ketika memejam kamu muncul di mimpiku, membuka mata kamu tak tersentuh jemariku. Seolah-olah Dewi Fortuna tak memberi celah untukku bernapas lega. Namun aku tak pernah jera, memory kepalaku dengan suka rela memutar-mutar slide kenangan kita, dimulai dari titik pertemuan hingga sampai di pintu keterpurukan.
Bagaimana dengan kamu? apa aku sudah hangus ditelan api ketidak pedulianmu? atau sosokku tak pernah terbaca lag didalam sanubarimu?
Mencintai kamu seperti mengubur jauh-jauh penderitaan
Lalu berjalan ditanah kelembutan
Berdiri jauh dari duri diciptakan
Terus tertawa meski sesekali menyeka air mata
Kamu ibaratkan air putih yang selalu membawa pergi semua yang mengganjal mulut
Kamu begitu, selalu menari-nari di kepalaku, sehingga aku terlalu sibuk mengingatmu
Menyayangimu seperti menonton film spongebob, yang terkadang aku sendiri tak mengerti untuk apa aku bertahan melihat kebodohannya
Memikirkanmu membuat aku seperti melayang-layang, padahal aku tak suka bermain layang-layang
Merindukanmu, ahhh selalu kurasakan itu, aku tak bisa mengibaratkannya dengan apapun.
kau mau apa? kutanya sekali lagi, kau mau apa? mengapa kau hanya terdiam, bukankah pertanyaanku ini membutuhkan jawaban? Aku tak butuh kata yang banyak, kau hanya cukup menjelaskannya sesingkat mungkin. Lalu setelah itu kau bisa pergi, berlalu, sembunyi, entah apapun itu aku tak peduli lagi.
Bagimu mungkin semua terasa mudah, tapi bagiku tidak begitu, semua terasa sulit tercerna, terutama tentang engkau, kini aku bukan yang dulu lagi.
Aku bukan lagi gadis yang suka menunggumu pulang, tertawa ketika kau sakiti, tersenyum ketika kau lukai, itu semua bukan bagian dari diriku lagi, aku tak lagi begitu.
Kamu dan kelakuanmu, sekarang hatiku benar-benar tak bisa memaklumi, aku hanya benar-benar lelah, lelah melihat sikapmu yang semaunya.
Jangan tanya mengapa, karena seharusnya kau mengerti, bukankah setiap orang punya titik jenuhnya masing-masing? sekarang aku berada di tahap itu.
Aku ingin berjalan meninggalkan engkau dan cerita tentang kita, cerita yang kau buat semaunya, cerita yang engkau sendiri adalah sutradaranya, cerita yang engkau sendiri tak pernah menjadi objek penderita (sekalipun), dan aku selalu menjadi objek pelengkapnya.
Aku sudah tak ingin lagi berperan dalam ceritamu, aku sudah merasa terlalu kadaluwarsa, jadi jangan datang lagi ketempat persinggahanmu ini, biarkan aku berhenti berperan didalam cerita keterlaluan itu. Ijinkan aku membuat ceritaku sendiri, kelak aku ingin menciptakan cerita yang indah, jauh dari kesesakan dan penderitaan, bahkan aku ingin diceritaku tak ada sedikitpun tangisan yang menggambarkan luka, tak akan ada lagi orang yang mengejar atau orang yang senang dikejar. Bukankah kejar-kejaran itu melelahkan? ohhhhh mungkin bagimu tidak, karena kau salah satu dari mereka yang suka berlari, sampai-sampai kau berfikir aku masih mengejar, padahal aku sudah berhenti jauh-jauh hari, sejak aku bertanya "kau mau apa" semua sudah berakhir, semua sudah aku kubur dibawah kakimu berpijak.