Entah
19.23Bagaimana aku melukismu ?
Sedangkan kamu sibuk menatap bentang langit yang lain, wajahmu menolak liuk kuas milikku, hingga sekarang kanvas ini tetap kosong seperti yang dulu.
Bagaimana aku melukismu ?
Matamu lebih dulu menghantam pijar harap yang kupancar,
Kiranya aku terpaku dalam nalar, seketika aku sadar, bukan aku yang bertengger di setiap luas ubin hatimu.
Jatuh cinta padamu adalah ketidasengajaan yang keterusan
Merindukanmu adalah ketidaksengajaan yang menjadi kebiasaan.
Aku tak pernah mengucap terimakasih kepadamu karena telah membawakan rumah yang kurindu,
karena kamu tiba-tiba pergi
dan untuk pertama kalinya aku patah hati.
Hari ini
Aku melihat matamu sama
Hanya saja tak sepaham yang dulu
Tidak sadarkah atau hanya berpura luput bahwa aku dilain sudut, menatapmu.
Menanti kapan kita bertemu, duduk dibawah langit bertajubkan bintang, lalu aku dan kau bercerita tentang cinta tentang rindu sembari tersenyum.
Akhhh fantasiii
Tapi hari ini
Juga membuatku terbangun dari mimpi,
Semua berbeda tak ada cinta meski sama
Kita bertemu hanya lewat mata, juga senyum tipis dan sedikit debar redup yang kecewa oleh waktu, tidak ada percakapan mengenai cinta dan rindu
Diantara keramaiam yang bising dan tembok besar yang tak tertembus
Kita berpisah, juga dalam luka yang berpura-pura menjadi bahagia.
Kulihat punggumu menjauh
Mendekati gemintang, menjemput awan
Dan melukisnya dalam langit matamu
Ruang hampamu berwarna dan langkahmu begitu jauh, hingga kedua tanganku tak sanggup menggapainya
Jika sebelumnya aku mencintaimu dengan iklas tapi sekarang aku kehilanganmu dengan iklas.
0 komentar