Malam ini aku lebih memilih meringkuk di bawah selimut dari pada membalas semua pesan mu. Kejadian tadi sore benar-benar memabukkanku, mungkin hal terakhir yang terlintas di benakku saat ini adalah sesegera mungkin menghapus semua tentangmu.
Kau berhasil membuat emosiku memuncak, dan dadaku terasa sesak. Lagi-lagi aku merasakan adanya suatu cairan Yang mengalir dari mataku, ini air mata atau bara api ? Mengapa begitu panas di pipi.
Ku lihat layar handphoneku, ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab darimu, hahhh aku tak peduli. Bukankah sudah ku jelaskan kepadamu, disaat detik-detik terakhir pertemuan kita, jikalau semua sudah berakhir, "kita" bukan suatu kata yang bisa dipertahankan lagi karena kau sudah berhasil menghancurkannya, Kau dan keserakahanmu membuatnya tersudut dan tak ingin kembali.
Sudahlah jangan meminta-minta seperti ini lagi, sepertinya untuk kesalahanmu kali ini tak bisa aku berikan toleransi. Kekecewaan yang kau persembahkan sebagai hadiah utama di pertemuan kita tadi sungguh menyiksa hati, dan kau malah menyuruh berpikir sekali lagi untuk keputusanku tadi, berkali-kali pun aku tak akan mengubahnya.
Aku rasa penghianatan ini sudah sangat berlebihan, kau dan gadis itu malah menyebutku "nenek lampir", sebutan macam apa itu ? Mengapa kau seolah-olah menikmati sebutan yang ditujukan kepada wanitamu ? Wanita yang katamu kau cintai setengah mati.
Dan kau bersembunyi di balik kata "LDR" untuk semua perbuatan kejimu. Apa kau benar-benar tak bisa melawan jarak ? Meskipun sebentar saja? Bukankah kemarin Kita sudah sepakat untuk menjadikan ini tantangan ? Tapi mengapa kau menyimpang diperjalanan ?
Katamu gadis itu tahu mengenai kita, tapi mengapa dengan bodohnya ia menerima kalian, mengapa kau dan dia tak bisa menggunakan logika,
hahhhh seandainya saja aku tak memeriksa handphonemu dengan tiba-tiba mungkin drama menyedihkan ini masih terus menghantui kita.
Apa kau masih ingat, awal mula hubungan kita, ya tiga tahun yang lalu, saat kau dan setangkai mawar merahmu memintaku menjadi kita, ku kira semua masih seperti semula, kita tetap kita tanpa ada kata kalian, tapi ternyata kau beri aku kejutan dengan perselingkuhan.
Ada apa dengan engkau ? Mengapa kau tega meletakkan kita di ujung tanduk berduri, sungguh aku benar-benar tak menyangka
Apa gadis itu lebih bisa membuatmu tertawa atau kau sudah lebih nyaman dengan dia ? Yahhhh sudahlah, walaupun aku memakimu dengan terbata-bata kurasa tak akan mengubah suasana, jadi pergilah dengan kalian aku tak akan memintamu untuk tinggal dengan kita,
bagaimana dengan aku ? Yaahh kau tenang saja aku akan tetap begini, berusaha mengusir kenanganmu pelan-pelan, Lalu sesekali memakimu dengan diam. Dan Kini Aku membencimu sebesar aku mencintaimu kemarin.
Kau berhasil membuat emosiku memuncak, dan dadaku terasa sesak. Lagi-lagi aku merasakan adanya suatu cairan Yang mengalir dari mataku, ini air mata atau bara api ? Mengapa begitu panas di pipi.
Ku lihat layar handphoneku, ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab darimu, hahhh aku tak peduli. Bukankah sudah ku jelaskan kepadamu, disaat detik-detik terakhir pertemuan kita, jikalau semua sudah berakhir, "kita" bukan suatu kata yang bisa dipertahankan lagi karena kau sudah berhasil menghancurkannya, Kau dan keserakahanmu membuatnya tersudut dan tak ingin kembali.
Sudahlah jangan meminta-minta seperti ini lagi, sepertinya untuk kesalahanmu kali ini tak bisa aku berikan toleransi. Kekecewaan yang kau persembahkan sebagai hadiah utama di pertemuan kita tadi sungguh menyiksa hati, dan kau malah menyuruh berpikir sekali lagi untuk keputusanku tadi, berkali-kali pun aku tak akan mengubahnya.
Aku rasa penghianatan ini sudah sangat berlebihan, kau dan gadis itu malah menyebutku "nenek lampir", sebutan macam apa itu ? Mengapa kau seolah-olah menikmati sebutan yang ditujukan kepada wanitamu ? Wanita yang katamu kau cintai setengah mati.
Dan kau bersembunyi di balik kata "LDR" untuk semua perbuatan kejimu. Apa kau benar-benar tak bisa melawan jarak ? Meskipun sebentar saja? Bukankah kemarin Kita sudah sepakat untuk menjadikan ini tantangan ? Tapi mengapa kau menyimpang diperjalanan ?
Katamu gadis itu tahu mengenai kita, tapi mengapa dengan bodohnya ia menerima kalian, mengapa kau dan dia tak bisa menggunakan logika,
hahhhh seandainya saja aku tak memeriksa handphonemu dengan tiba-tiba mungkin drama menyedihkan ini masih terus menghantui kita.
Apa kau masih ingat, awal mula hubungan kita, ya tiga tahun yang lalu, saat kau dan setangkai mawar merahmu memintaku menjadi kita, ku kira semua masih seperti semula, kita tetap kita tanpa ada kata kalian, tapi ternyata kau beri aku kejutan dengan perselingkuhan.
Ada apa dengan engkau ? Mengapa kau tega meletakkan kita di ujung tanduk berduri, sungguh aku benar-benar tak menyangka
Apa gadis itu lebih bisa membuatmu tertawa atau kau sudah lebih nyaman dengan dia ? Yahhhh sudahlah, walaupun aku memakimu dengan terbata-bata kurasa tak akan mengubah suasana, jadi pergilah dengan kalian aku tak akan memintamu untuk tinggal dengan kita,
bagaimana dengan aku ? Yaahh kau tenang saja aku akan tetap begini, berusaha mengusir kenanganmu pelan-pelan, Lalu sesekali memakimu dengan diam. Dan Kini Aku membencimu sebesar aku mencintaimu kemarin.